DISPERINDAG PROV JATENG
entry image

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PENGAWASAN IMPOR TPT SEBAGAI BAHAN BAKU UNTUK MENDORONG EKSPOR DI JAWA TENGAH


Semarang, 11 Maret 2020 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis Kebijakan Impor dengan tema “EVALUASI KEBIJAKAN DAN PENGAWASAN IMPOR TPT SEBAGAI BAHAN BAKU UNTUK MENDORONG EKSPOR DI JAWA TENGAH”. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah dan dilaksanakan di Aula Dinas Lt. 5 dengan menghadirkan narasumber dari Kepala Seksi Barang Konsumsi Tidak Tahan Lama Direktorat Impor Kemendag RI (Dwi Wahyono, S.Si, M.Si), Kepala Seksi Penegakan Hukum Perizinan Daglu Direktorat Tertib Niaga, Kemendag RI (Aribianto, ST), Kasubdit Industri Tekstil Direktorat Industri Tekstil Kementerian Perindustrian (Wahyudi), Kepala Seksi Perijinan dan Fasilitas I Kanwil Bea Cukai Jateng DIY (Cahya Nugraha, SE, MM).
 
 
Tujuan kegiatan ini adalah masih banyaknya pelaku usaha (importir) di Jawa Tengah yang belum paham kebijakan impor yang setiap saat berubah, selain itu juga untuk menyampaikan informasi terkini tentang regulasi impor barang tekstil dan produk tekstil guna memperlancar para produsen importir guna memenuhi bahan baku untuk keperluan ekspor Jawa Tengah, termasuk menyampaikan strategi dan upaya peningkatan produksi komoditas industri pengolahan dalam memanfaatkan besarnya peluang kebutuhan impor para pembeli pasar dunia. Sesuai arahan Presiden RI tentang percepatan pembangunan di Jawa Tengah yang tertuang pada Perpres no 79 tahun 2019 maka Dinas Perindusrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah membuat rencana induk percepatan pembangunan ekonomi sektor industri dan perdagangan dengan berbagai kegiatan seperti pelatihan teknis, rapat koordinasi, bintek, forum  dan perluasan pemasaran. Seperti kita ketahui bersama bahwa perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2019 tumbuh sebesar 5,41% diatas nasional sebesar 5,02%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan industri pengolahan dengan pangsa diatas 30 persen. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri pengolahan juga menyerap tenaga kerja terbesar kedua setelah sektor pertanian, namun industri pengolahan menunjukan trend yang cenderung melamban dalam beberapa tahun terakhir. Industri pengolahan Jawa Tengah utamanya disumbangkan oleh  subsektor makan minum, pengolahan tembakau, batu bara dan pengilangan migas serta industri TPT. 
 
 
Sementara dari sisi ekspor, pengembangan industri manufaktur diprioritaskan pada industri yang berkonstribusi besar terhadap peningkatan ekspor Jawa Tengah, kedepan terus dikembangkan ekspor industri-industri subtitusi impor yang dapat diolah di dalam negeri sehingga tidak banyak menguras devisa untuk keperluan impor. Ekspor Jawa Tengah sendiri utamanya disumbangkan oleh komoditas TPT, kayu dan furniture dan alas kaki, dimana sampai dengan Januari 2020 komoditas TPT mengalami penurunan 1,2% bila dibandingkan bulan sebelumnya pada periode yang sama. Jawa Tengah memiliki sektor unggulan ekspor TPT dengan target pertumbuhan berkisar 5,4 – 5,8 % di tahun 2020, akan tetapi saat ini industri Tiongkok mulai berhenti akibat dampak virus corona padahal industri tekstil masih bergantung pasokan impor dari China dengan nilai sebesar 32% (Bank Indonesia, 20-02-2020). Untuk itu diperlukan terobosan atau menjajaki cara lain agar tidak tergantung impor dari China yakni dengan mencari negara alternative impor dari India, Pakistan atau Vietnam (Bank Indonesia,20-02-2020).
 
 
Kami berharap agar kegiatan bimtek ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mensinergikan kebijakan antara pusat dan daerah serta membangun komunikasi dengan para pengusaha yang bergerak di sektor industri tekstil dan untuk mendorong ekspor di Jawa Tengah