DISPERINDAG PROV JATENG
entry image

Forum Bimbingan Teknis Kebijakan Impor Bagi Importir Produsen Jawa Tengah


Semarang, 19 September 2019, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengadakan kegiatan “Forum Bimbingan Teknis Kebijakan Impor Bagi Importir Produsen Jawa Tengah”, acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Perindag Prov Jateng dan dilaksanakan di Aula Dinas Lt. 5 dengan menghadirkan narasumber dari Direktur Fasilitasi Ekspor Impor, Kemendag; Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki dan Aneka, Kementerian Perindustrian dan Kepala Bidang Fasilitasi Kepabeanan dan Bea Cukai.

Tujuan kegiatan pada hari ini adalah menyampaikan informasi terkini tentang regulasi impor tekstil dan produk tekstil (TPT) guna memperlancar kegiatan ekspor para produsen eksportir Jawa Tengah, termasuk menyampaikan strategi dan upaya peningkatan produksi TPT dalam memanfaatkan besarnya peluang kebutuhan impor pasar dunia, serts informasi fasilitas kepabeanan bagi importer.

Pemerintah saat ini terus berupaya meningkatkan daya saing nasional melalui penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur termasuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, efisien dan business friendly. Ditengah kelambanan pertumbuhan ekonomi global ditambah adanya trade war antara China dan USA serta adanya hambatan perdagangan Non tariff barrier yang cenderung makin meningkat di beberapa negara besar di pasar Eropa dan Amerika terhadap produk-produk dari negara yang pasarnya terus berkembang (emerging market) termasuk produk dari Jawa Tengah, kita semua semakin tertantang untuk menederegulasi berbagai aturan yang menghambat usaha serta mendebirokratisasi dengan meningkatkan pelayanan kepada dunia dalam menghadapi persaingan pasar global seperti yang kita lakukan hari ini.

Hal ini berpengaruh bagi Jawa Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir banyak produsen merelokasi atau ekspansi usahanya ke Jawa Tengah seperti Semarang, Demak, Ungaran, Boyolali, Salatiga, Pemalang, Jepara serta daerah lain. Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added. Posisi ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya. Oleh karenanya, pemerintah terus memacu ilirisasi industry guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.