DISPERINDAG PROV JATENG
entry image

Kegiatan Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar


Di Era Ekonomi Digital ini pertumbuhan industri e-commerce justru semakin pesat di tengah perlambatan laju ekonomi tanah air. ”Bukan tak mungkin nantinya e-commerce dapat menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional”.

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar dengan mengambil Tema “Konsumen Cerdas di Era Ekonomi Digital”.

Kegiatan Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar ini bertujuan untuk membentuk kader generasi masa depan yang sadar dan paham akan perlindungan konsumen sejak dini sehingga edukasi konsumen cerdas ke depannya tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga masyarakat luas khususnya generasi muda.    

Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar di selenggarakan selama 1 (satu) hari pada tanggal 13 September 2018 bertempat di Hotel Muria Semarang. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah memberikan sambutan dan membuka secara resmi pelaksanaan kegiatan edukasi tersebut.

Sasaran kegiatan Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar dikhususkan bagi para pelajar yang diikuti oleh 5 (lima) SMK Negeri di Semarang (SMK N 4 Semarang, SMK N 5 Semarang, SMK N 6 Semarang, SMK N 7 Semarang dan SMK N 8 Semarang) dengan peserta sebanyak 100 (seratus) orang. Dengan menghadirkan Narasumber/Pembicara dari :

1.      Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Semarang

2.      Akademisi (Universitas Dian Nuswantoro Semarang)

3.      Akademisi (Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga)

Dengan ditetapkannya tanggal 20 April menjadi Hari Konsumen Nasional (HARKONAS) dan  Tahun ini Provinsi Jawa Tengah mendapatkan peringkat ke II atas keberhasilan sebagai Pemerintah Daerah Provinsi Peduli Perlindungan Konsumen maka perlu segera disikapi dengan kegiatan yang sistematis agar pelaksanaan perlindungan konsumen kedepan tetap terjaga. Karena permasalahan sengketa konsumen saat ini semakin banyak dan membutuhkan langkah penanganan yang nyata. Pada umumnya, konsumen berada dalam posisi yang lemah, baik secara ekonomis, psikologis dan pengetahuan dibanding pelaku usaha. Dan point utama dari sengketa konsumen umumnya berawal dari informasi yang tidak diterima secara benar dan tepat, sehingga pemahaman transaksi barang dan atau jasa menjadi berbeda. Hal ini tentunya sangat mudah dan lebih baik diselesaikan secara musyawarah, tanpa harus menerapkan aturan hukum dan sanksi.

Peran Badan Perlindungan Sengketa Konsumen juga sangat penting dalam mendorong keberdayaan dan sebagai wadah perlindungan bagi konsumen dan sebagai salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang lebih mengedepankan prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat, mudah, murah dan cepat.

Dengan demikian kegiatan Edukasi Perlindungan Konsumen Bagi Pelajar dapat memberikan manfaat kepada para peserta dalam rangka Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.