instagram takipçi hilesi instagram beğeni hilesi instagram takipçi hilesi instagram takipçi hilesi instagram beğeni hilesi instagram beğeni hilesi
 DISPERINDAG PROV JATENG
entry image

SOSIALISASI KEBIJAKAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI DIBIDANG IMPOR


 

Minggu lalu (21/3/2017) di Aula Kantor Dinas Perindag Provinsi Jawa Tengah diselenggarakan “Sosialisasi Kebijakan Perdagangan Luar Negeri di Bidang Impor”. Sebagai pembicara kegiatan tersebut antara lain dari Direktorat Impor Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Standarisasi dan Pengendalian Mutu, Kementerian Perdagangan RI, serta KPP Bea Cukai Semarang yang diikuti oleh 165 yang terdiri dari pelaku usaha di bidang impor, instansi terkait dan para akademisi di Jawa Tengah. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk menyebarluaskan perubahan kebijakan terbaru perdagangan luar negeri khususnya di bidang impor bagi para pelaku usaha, dinas terkait para akademisi. Kebijakan tersebut antara lain Ketentuan impor besi/baja, baja panduan dan produk turunannya berdasarkan Permendag No.82/M-DAG/PER/12/2016 dan Ketentuan impor ban berdasarkan Permendag No77/M/DAD/PER/112016.

 

 

Terkait dengan kegiatan perdagangan luar negeri, khususnya impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan produsen yang barang-barang impornya tersebut tidak dapat dihasilkan atau negara dapat menghasilkan akan tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat luas. Untuk melindungi produksi dalam negeri dari produk sejenis luar negeri, pemerintah suatu negara akan menerapkan atau mangeluarkan suatu kebijakan perdagangan internasional di bidang impor. Kebijakan tersebut, langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi struktur, komposisi, maupun sebagai dorongan dan melindungi pertumbuhan industri dalam negeri, bahkan lebih dari iut yakni penghematan devisa negara.   Impor terdiri dari ; barang-barang konsumsi bahan baku dan bahan penolong serta bahan modal. Barang-barang konsumsi merupakan barang-barang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti halnya makanan, minuman, gula, terigu, mentega, beras, dan daging. Adapun bahan baku dan bahan penolong merupakan barang- barang yang akan digunakan untuk kegiatan industri baik sebagai bahan baku maupun bahan pendukung seperti Tekstil dan barang dari tekstil, bahan-bahan kimia, obat-obatan dll.  Dan Barang modal adalah barang yang dipergunakan sebagai modal usaha seperti mesin, suku cadang, computer dll.

Sebagai gambaran ekspor non migas Jateng kumulatif bulan Januari sd Pebruari 2017 sebesar 885,5 juta USD mengalami peningkatan 7,67% atau naik 43,03 juta USD dibandingkan periode yang sama tahun 2016 (842,47 juta USD). Namun untuk bulan Pebruari realisasi ekspor non migas mencapai 428,38 juta USD terjadi penurunan sebesar 28,74 juta USD atau turun 6,29% dari ekspor bulan Januari 2017 yang sebesar 457,12 juta USD. Komoditas ekspor non migas utama Jateng antara lain : Tekstil & barang Tekstil 379,37 juta USD atau 42,84 % dari total ekspor non migas Jateng, disusul Kayu & barang dari kayu 158,81 juta USD atau 17,93 % dan Barang hasil pabrik 113,45  juta USD atau 12,81 %. Adapun negara Amerika Serikat merupakan tujuan utama ekspor terbesar Jateng dengan nilai sebesar 239,29 juta USD atau 25,94 % dari total ekspor Jateng.

Dari realisasi ekspor non migas tersebut, realisasi Impor non migas bulan Pebruari 2017 (405,39 juta USD) juga terjadi penurunan sebesar 124,26 juta USD atau turun 23,46% dibandingkan impor bulan Januari 2017 yang sebesar 529,65  juta USD, sedangkan Impor non migas Jateng kumulatif bulan Januari sd Pebruari 2017 sebesar 935,03 juta USD mengalami peningkatan 15,11 % atau naik 122,71 juta USD dibandingkan periode yang sama tahun 2016 (812,32 juta USD). Adapun sebagai komoditas impor non migas utama Jateng antara lain : Tekstil & barang Tekstil 255,45 juta USD atau sebesar 27,32 % dari total impor non migas Jateng, disusul Mesin & peralatan elektronik 238,31 juta USD atau 25,49 % dan produk nabati 93,23 juta USD atau 9,97 %. Adapun negara asal utama impor terbesar Jateng adalah Tiongkok dengan nilai sebesar 366,90  juta USD atau 22,35  % dari total impor Jateng.