entry image

Peningkatan Kapasitas Produksi Sale Pisang dengan Mesin Teknologi Tepat Guna Slicer Pisang


Pisang jenis raja tonto yang memiliki cita rasa khas, murah dan banyak tersedia di pasar menjadikan komoditi ini sebagai pilihan bagi warga Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal untuk dijadikan sebagai bahan baku sale pisang. Sale pisang adalah makanan hasil olahan dari buah pisang yang dipotong tipis-tipis kemudian dijemur. Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang sehingga sale pisang lebih tahan lama. Sale pisang ini bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu. Saat ini sale pisang juga dijual dalam berbagai varian rasa dan produksi pisang sale juga sudah menembus pasar internasional. Sale pisang merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan serta dikenal sebagai produk pisang yang mempunyai rasa dan aroma yang khas. 
 
 
Mufiddin sebagai salah satu pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi sale pisang mengaku bisa memproduksi 10-15 kilogram sale pisang per minggu yang dipasarkan melalui pasar tradisional, mini market, dan penjualan online melalui media sosial. Berlokasi di Desa Plantaran RT 01 / RW 07 Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kendal, usaha dengan merk dagang “Rossa” ini dirintis sejak tahun 2015 oleh orang tuanya. Mufiddin sendiri mulai fokus mengelola usaha ini sejak setahun yang lalu (red-2020) dengan pertimbangan meneruskan usaha orang tua yang sudah lanjut usia. 
 
 
Menurut Mufiddin, pasar sale pisang  masih terbuka luas dan belum bisa digarap secara maksimal sedangkan ketersediaan bahan baku berupa pisang jenis raja tonto di Kabupaten Kendal melimpah dan belum banyak yang bisa diserap. Mufiddin menambahkan bahwa kendala produksi yang dihadapi adalah kurangnya tenaga pengiris pisang sebagai bahan baku sale. Untuk satu orang hanya mampu mengiris 20-25 sisir per hari sedangkan tenaga pengiris yang ada di tempat usahanya hanya istrinya. Mufiddin pernah berusaha bermitra dengan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengiris, akan tetapi tidak berlangsung lama karena warga yang bermitra akhirnya memilih untuk membuka usaha sendiri. 
 
Untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mengatasi kendala di tenaga pengiris dibutuhkan alat bantu berupa slicer. Mufiddin pernah mencoba menggunakan mesin pengiris singkong yang banyak dijual di pasaran, namun gagal karena bahan yang digunakan adalah pisang matang dengan tekstur yang lunak.
 
Melihat kendala yang dihadapi Mufiddin, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah melalui Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan mencoba membantu dengan membuat rancangan alat teknologi tepat guna (TTG) berupa mesin slicer/pengiris pisang. Mesin dengan penggerak motor listrik ¼ HP dirancang mampu mengiris pisang matang dengan ketebalan sampai dengan 1 mm, praktis dan mudah digunakan. Mesin ini sangat sesuai dengan kebutuhan Mufiddin serta bisa meningkatkan kapasitas produksi 3 sampai 4 kali dibanding dengan mengiris pisang secara manual.
 
 
Mufiddin berterima kasih kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Provinsi Jawa Tengah melalui Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan atas kendala usaha yang teratasi. Semoga ke depan, usahanya semakin maju dan berkembang.